Bintang Yang Terlupakan

Di tanah pelajaran yang sunyi,

Kenapa wahai malas? kau selalu bersarang di sudut hati?

Di daring sore hari, seorang Bunda mengetuk hatiku untuk mengungkapkan beban,


Pada titian tulisan-tulisan kreasi seorang guru malas yang terperangkap dalam keruhnya tugas


Matahari terbenam namun ia tidak peduli, melukis kata,

mengukur tinta dalam gemerlapnya jagad maya

Ia lupa akan bintang-bintang kecil di kelasnya yang

merintih membutuhkan cahaya

Di bawah mentari yang bersinar terangnya,

Kelasnya terlihat sunyi senyap,

namun itu bukanlah ketenangan yang bermakna

melainkan, anak-anak kecil yang disibukkan oleh lembar kerja,

yang bahkan belum pernah sekejappun terlihat dan terdengar olehnya apalagi terlintas dalam pusat perenungannya

Sementara lihatlah sang guru yang terlena dalam dunia formalisasi diselingi puja-puji media masa kini, mencampakannya begitu saja

 

Ah Pak Guru, Bu Guru, oh diriku, bisakah kau mendengar? Suara anak-anak yang hilang dalam hening, merindukan hatimu yang telah lama terkunci oleh belenggu formalisasi

Kini saatnya engkau berkreasi, ciptakan masterpiece abadi, untuk anak-anakmu kini dan nanti

 

Yaa, aku sangat paham, beban di pundakmu itu

Bangkitlah, di antara lautan ujian dan tugas yang menumpuk

Ada tugas mulia, yang lebih menanti, untuk anak-anak yang cerdas berseri

 

Wahai penyemai benih kebijaksanaan, dalam setiap kata dan renungan. Di balik raut wajah lelahmu itu, aku yakin kau juga ingin anak-anakmu gemilang berkembang, bercahaya bintang

Yang suatu saat akan menyinari langit gelapmu, tempat muridmu dulu bersemayam

 


Eko Aji Priyatno,

Papringan, 29 November 2023

Komentar

Postingan populer dari blog ini

UMI (2)

The Masterpiece

Jemawa