Postingan

Jemawa

Dada jemawa  terasa, mengudara di ujung semesta mencekik nurani yang menangis meronta-ronta Ini hati penuh duri luka Mengapa tidak di tanganmu, wajahmu atau mata lentikmu Malah di tapakmu, kau bilang ada sesuatu Ah, ternyata aku tak lebih sedari halu Rendahkan saja aku, di dasar kerakMu Biar tak satupun mengusik, menggauliku Kalau saja hidayahMu tak mau berkuasa Sampai akhirpun, aku begini sahaja Darul Abror, 1438 H.

UMI (2)

  Sajak Eko Aji Priyatno   UMI   Seintim tangan melekat menari , di sisi L embut dikecupnya berahiku, menderu melirik memandangmu Bayang-bayang firdaus me manjakan setiapku Fana yang berdosa, muslihat tiada tara Ainul Mardhiyah yang sebenarnya ada di Umi yang kedua   Purwokerto, 25 April 2015

Second Masterpiece

  Eko Aji Priyatno   Musim Semi di Tanah Surgawi   Guguran dedaunan berceceran Di mana kau bunga? Aku mencintaimu segala rindu Tapi kau menggugurkannya dengan kebenaran-kebenaran yang Kau petik pada kembang tepi sungai Musi   Diam ! Selakan kedamaian menemanimu Kau senyaman pengetahuan Hanya boleh menyapa saja Merenung di tepi senja, terasa asa   Jahanam ! Sendal itu terbang Ajudan sang panglima menutup rapat-rapat Pintu-pintu bersemayamnya sang ratu Untung saja bukan profesor itu Perdebatan kebenaran-kebenaran Selama kau mulut luapkan bisa Mengiba jiwa menangis duri menanti   Tak tahan ! Sepucuk tinta membakar habis Di setiap  hujan gerimis Titikkan endapan putih Kasih Rasa cinta manusia-manusia saling sapa Terbaris di pelataran hijau Terpisah kolam-kolam berjajar Luluh lantah tah tah tah Karena sumpah serapah fatwa-fatwa kebenaran   Mesra, sembunyilah.. Di balik berjuta bint...

The Masterpiece

  Eko Aji Priyatno   Li man? [1] ( ٢ )   Ya Habibal qalbi [2] , Lihat penerbang itu Matanya terpejam, berlenggok elok Bersama dentuman bedug kyai kanjeng Aku pun lena di setiap iramanya Kerlip mataku disemai sanjungan-sanjungan Di atas permadani di bawah mentari malam pagi Bernaungkan aliran doa-doa Li man?   Malam ini batinku terhangatkan Keringatnya hangat mewangi teriring Sorak-sorai para pecinta Di sela tangisan-tangisan para perindu Bersama bulan menahan tetesannya Mengalir ditemani bintang-bintang fajar Hembuskan kedamaian abadi   Masya Allah, Bukan malaikat, bukan matahari Hanya cipratannya mengalahkan segalanya Kulihat rona Abah Kyai Menjelma bayang-bayang cintamu Bersamamu kah wahai Nabi?         Assalamu’alaika ya.. ya.. Rasullallah.. [3] Di atas hamparan satir kelambu biru Gadis pondokkan itu, berderai membisikkan namamu Manunggal bersama asma agungNya  ...

Cepatlah kembali

 Cepatlah kembali Kemarilah, Kau yang begitu asing wahai luka Panglipur hati melayang, menari dalam kernat kernut, kepala yang slalu menyela, aku tidak apa apa cepatlah, dunia menunggu membalas cintamu sembilan puluh sembilan hari terang, bersembunyi menyingsing di pelupuk bintang- bintang,  Bulan, cepatlah aku tak mau memaksanya terbaring di atas langitmu Kau akan tetap kusiasati, karna tak boleh ada yang manyakitiku selain cintaMu Dan desir lukaku ini tak akan pernah membiarkanmu sendiri

Dimana makna

 Dimana makna Berjelaga ke sana Pantai utara selatan, ombak bernyawa, gunung, air jatuh tertawa,  Kulihat dia yang kosong, bayangannya dimaya Riuh tampannya, cantiknya, mata kacamatanya, hitam bersinar surya, mengkilap-kilap Gandrung dipuja terlihat sanubari tanpa makna, pilu lesu ragamu Pulang, di rumahku saja, aku bebas merayumu Meski kau larangku belonjak  Kalau tak menuju tenda hijau putih, karibku Semalaman kata yang dalam, terbincang, tersiakan menjelang pagi, pulangku bawakan pada buah hati

Sesal

 Sesal Sesal kuulang, kembali tak jemu Perginyaku, tak mungkin kembali Dia menangis, amarahku berkabung lagi Ku mau berhenti, mengerti tak tahu diri, dangkalnyaku enggan peduli