Sajak Eko Aji Priyatno UMI Seintim tangan melekat menari , di sisi L embut dikecupnya berahiku, menderu melirik memandangmu Bayang-bayang firdaus me manjakan setiapku Fana yang berdosa, muslihat tiada tara Ainul Mardhiyah yang sebenarnya ada di Umi yang kedua Purwokerto, 25 April 2015
Eko Aji Priyatno Li man? [1] ( ٢ ) Ya Habibal qalbi [2] , Lihat penerbang itu Matanya terpejam, berlenggok elok Bersama dentuman bedug kyai kanjeng Aku pun lena di setiap iramanya Kerlip mataku disemai sanjungan-sanjungan Di atas permadani di bawah mentari malam pagi Bernaungkan aliran doa-doa Li man? Malam ini batinku terhangatkan Keringatnya hangat mewangi teriring Sorak-sorai para pecinta Di sela tangisan-tangisan para perindu Bersama bulan menahan tetesannya Mengalir ditemani bintang-bintang fajar Hembuskan kedamaian abadi Masya Allah, Bukan malaikat, bukan matahari Hanya cipratannya mengalahkan segalanya Kulihat rona Abah Kyai Menjelma bayang-bayang cintamu Bersamamu kah wahai Nabi? Assalamu’alaika ya.. ya.. Rasullallah.. [3] Di atas hamparan satir kelambu biru Gadis pondokkan itu, berderai membisikkan namamu Manunggal bersama asma agungNya ...
Dada jemawa terasa, mengudara di ujung semesta mencekik nurani yang menangis meronta-ronta Ini hati penuh duri luka Mengapa tidak di tanganmu, wajahmu atau mata lentikmu Malah di tapakmu, kau bilang ada sesuatu Ah, ternyata aku tak lebih sedari halu Rendahkan saja aku, di dasar kerakMu Biar tak satupun mengusik, menggauliku Kalau saja hidayahMu tak mau berkuasa Sampai akhirpun, aku begini sahaja Darul Abror, 1438 H.
Komentar
Posting Komentar